KABAR ANGIN
Kaki Mang Agung melangkah menyusuri tanggul sungai Tasrik yang airnya sedang pasang hingga hampir meluber kedaratan.

Disuatu tempat ia menghentikan langkahnya,
Rupanya ia sudah tiba ditempat yang dituju.

Tak beberapa lama ia langsung memunguti sesuatu dari tepian sungai Tasrik itu,
ia tak peduli pasang dan derasnya aliran air sungai dihadapannya.

Kemudian hasil pungutannya itu langsung ia masukan kedalam karung kecil yang dibawanya sejak tadi.

Setelah selesai dari tempat itu, kemudian ia bergegas ketempat lain yang jaraknya tidak jauh dari tempat tadi.

Namun ditempat baru ini ternyata banyak ditumbuhi ilalang yang tumbuh cukup lebat,
Mang Agung pun terpaksa membabat terlebih dahulu agar bisa menemukan yang ia cari.

Setelah menguras tenaga yang membuat Mang Agung kelelahan,
akhirnya ia selesai juga membabat semua ilalang itu lalu Mang Agung berisitirahat sejenak untuk menghilangkan lelahnya.

Setelah beberapa menit beristirahat,
kemudian Mang Agung kembali melanjutkan aktifitasnya memunguti sesuatu ditepian sungai itu yang rencananya akan ia jual di kampungnya Rp.1000 1 ikat.

Tak terasa matahari yang bersinar cukup terik hari itu sudah berada tepat diatas kepala Mang Agung,
karena merasa kepanasan dan kelelahan Mang Agung pun mempercepat memunguti sesuatu dari tepian sungai itu.

Sayup-sayup terdengar suara adzan dari desa yang letaknya cukup jauh dari tepian sungai Tasrik itu.

Saat Mang Agung sedang memasukan sesuatu yang dipungutnya itu kedalam karung kecilnya,
tiba-tiba jari Mang Agung tak sengaja meraih sesuatu dari air yang tertutupi tanaman merambat diatas air tersebut.

Ia pun mengangkat benda tersebut dari air,
beberapa detik Mang Agung merasa heran dengan benda yang dipegangnya itu.

Alangkah terkejutnya Mang Agung setelah diperhatikan beberapa detik ternyata benda itu berbentuk pergelangan tangan manusia.

Saking terkejutnya,
Mang Agung menjatuhkan telapak tangan yang masih mengeluarkan darah segar itu ke tanah dan ia pun lari terbirit-birit seraya meninggalkan karung kecil yang ternyata berisi tanaman Kangkung.

Mang Agung pun meraih sepeda Onthelnya yang sejak awal diletakan dibawah pohon,
lalu dengan perasaan takut dan bingung karena ia tak habis pikir mengapa ada sesosok tangan manusia disungai ini dan darimana asalnya lalu siapa pemilik tangan tersebut.

Mang Agung mengayuh sepedanya dengan tergesa-gesa dan menuju desa terdekat.

Ternyata Mang Agung tidak mengetahui bahwa ditempat jauh dari tempatnya mencari Kangkung itu berdiri markas penjajah yang sangat kejam dan sadis karena kerap menyiksa dengan memotong bagian tubuh atau bahkan menghabisi nyawa para penduduk yang tidak mau membayar upeti atau pajak hasil panen ladang pada mereka,
lalu jasad atau potongan tubuh penduduk yang tidak berdosa itupun dilempar ke sungai Tasrik yang aliran sungainya deras dan mengarah langsung kelaut.

Judul : Misteri Kangkung Berdarah.

Karya : Bos Imin.




Cerpen Menarik Lainnya



[Klik Disini]
Ada Yang Baru